Kehidupan dan Warisan Bob Marley

Sudah 40 tahun sejak artis di balik “One Love” ini meninggal. Namun, Warisannya, bagaimanapun, akan selalu hidup.

Bob Marley memperkenalkan dunia mewakili musik reggae. Dia adalah salah satu dari sedikit seniman dari negara dunia ketiga yang pernah mencapai bintang super internasional. Lagu-lagunya tentang cinta, iman, dan persatuan menyentuh kehidupan banyak orang. Bob Marley memiliki pesan positif untuk disampaikan, sebuah pesan yang tidak terkait dengan keserakahan dan komersialisme yang menguasai sebagian besar dunia permusikan.

Sepanjang karirnya yang singkat ia mengatasi banyak rintangan untuk menjadi salah satu artis paling berpengaruh dalam sejarah musik. Robert Nesta Marley lahir pada 6 Februari 1945 di St Ann, Jamaica.

Bob dibesarkan di daerah pegunungan pedesaan Nine Miles, Jamaica. Ketika Bob berusia lima tahun ayahnya, Norvol Marley meninggalkan ibunya, Cidella Malcom dan membawanya ke Kingston dengan janji akan menyekolahkan Bob Marley. Delapan belas bulan kemudian, yang membuat Cidella ngeri, Bob tidak bersekolah tetapi tinggal bersama pasangan lansia. Akhirnya Bob dan ibu tunggalnya pindah kembali ke Nine Miles.

Bob Marley menjalani kehidupan serba cepat di Kingston. Dia sangat dipengaruhi oleh musik Fats Domino dan Ray Charles yang sangat populer di Jamaika pada saat itu. Dengan munculnya musik Jamaika dan serangkaian kolaborasi, Bob memulai karir musiknya pada usia enam belas tahun. Seperti kebanyakan anak Jamaika, dia melihat musik sebagai pelarian dari kenyataan pahit ghetto yang dia tinggali. Dia merekam single pertamanya “Judge Not” pada tahun 1961.

Seiring berlalunya waktu, Bob menikahi Rita Marley pada tahun 1966 dan pindah ke Delaware, AS untuk mengejar “blue collar American dream.”

Berfokus pada membesarkan keluarganya dan bekerja di jalur perakitan dengan nama alias Donald Marley. Mengesampingkan musiknya, Bob mengalami diskriminasi setiap hari. Saat berada di Amerika Serikat, pengabdian Bob yang mengubah hidup pada Rastafarianisme membuatnya merenung dan prioritasnya bergeser lagi. Dia menumbuhkan rambut gimbalnya, pindah kembali ke Jamaika, dan memulai “The Wailing Wailers.”

Saat itu, reggae belum dikenal dan tidak selalu sepopuler beberapa dekade terakhir. Masyarakat global pada tahun 1960-an dan 70-an secara luas rasis terhadap orang kulit hitam dan konsep kesetaraan jauh dari kesetaraan bagi Bob. 

Dia menggunakan musiknya untuk memberontak saat dia berjuang melawan penindasan dan ketidakadilan. Seraya platform cinta dan persatuannya menguat, begitu pula pengaruhnya. Banyak orang yang melawan penindasan dan menjadikan musiknya sebagai pelarian serta sebagai cara memvisualisasikan rasa yang berbeda.

Leave a Comment

Your email address will not be published.